USWAH BISNIS

adminsbs Maret 4, 2019 0 Comments

Sahabatku yang baik hatinya, dalam perjalanan kehidupan dan juga bisnis kita memerlukan teladan   atau   model   terbaik.   Karena   kita adalah manusia,  makhluk  yang   serba  terbatas  dan lemah. Meskipun kita telah diberikan seabrek-abrek konsep kehidupan dari Allah yang Maha Kuasa, ternyata dalam pelaksanaan konsep tersebut kita tetap ingin melihat contohnya. Betul kan mas bro dan mba sist?

Ini adalah fitrah manusia. Dan oleh karena itu pulalah syariah Islam yang diturunkan oleh Allah itu langsung disertai dengan contoh yang nyata, hidup di tengah-tengah manusia yaitu Muhammad bin Abdullah ‘al-Amin’,  Rasul   Allah   yang   diangkat   dari   kalangan manusia sendiri. Sehingga tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk mengatakan di hadapan Allah  mereka tidak memahami konsep yang diturunkan tersebut.

Uswah  hasanah  memang  diperlukan  oleh  kita. Agar kita dapat  benar-benar     memahami     dan melaksanakan konsep tersebut dengan benar.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ الَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو الَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ الَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap   (rahmat)   Allah   dan   (kedatangan)   hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Al-Ahzab [33]: 21).

Pelajari kehidupan Rasulullah secara utuh. Bacalah dan kajilah sirah nabawiyah berulang-ulan. Baca perihidup beliau Rasulullah saw. Halaqoh (ngaji intensif) jika perlu tentang sirah nabawiyah ini agar kita dapat meresapi sang uswah utama yang paling sempurna.

Begitu seharusnya dalam menjalani hidup. Nah, sama juga dalam bisnis, kita pun membutuhkan uswah. Uswah dalam pembuatan ide bisnis, ushwah dalam perencanaan bisnis, uswah dalam organisasi dan manajemen bisnis, uswah dalam pemasaran, dan uswah dalam perkara bisnis lainnya.

Temukan, lihat, pelajari. Ambil uswah-uswah terbaik dibidang-bidang tersebut. Amalkan nilai-nilai terbaik dari uswah tersebut. Bukan untuk menjadi diri mereka,  namun  untuk  menjadi  diri  kita  sendiri  yang terbaik.

Setiap hari dalam amal kehidupan dan juga bisnis, mencari, menemukan kemudian mengambil hal-hal terbaik dari uswah hasanah merupakan nilai inti yang kita  yakini  akan  memberikan  kontribusi  yang  besar untuk membawa kita menjadi orang-orang yang terus menerus menuju kepada kebaikan (Continuous Improvement).

Kami secara pribadi menjadikan Abdurrahman bin Auf sebagai uswah setelah Rasulullah saw. Beliau adalah sahabat Nabi, dan bukan Nabi, yang langsung mendapat bimbingan dari pengusaha sahabat terdekat Nabi yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Sedikit cerita tentang kehidupan dan bisnisnya kami sampaikan disini.

Abdurrahman bin ‘Auf radhiyalLahu ‘anhu Uswah    Bisnis    dari Sahabat   Rasulullah    yang dijamin masuk surga.

Abdurrahman bin ‘Auf ra., adalah salah satu tokoh besar sahabat Nabi Muhammad yang menjadi uswah bagi penulis. Beliau merupakan orang ketujuh dari 10 sahabat Nabi SAW yang memperoleh kabar gembira masuk surga. Beliau adalah salah satu ikon pengusaha terkaya dan memperoleh ridha Allah di  zaman Rasulullah, dan saya pikir sepanjang masa.

Jumlah aset kekayaan Abdurrahman bin Auf diperkirakan melebihi 2.560.000 dinar atau setara dengan Rp. 5 Trilyun lebih (konversi harga 1 dinar saat tulisan ini dibuat sekitar 2,04jt) dan semuanya penuh berkah. Nilai tersebut belum termasuk aset properti dan aset lainnya yang beliau miliki. Dan yang penting di catat dari harta tersebut adalah tanpa ada utang atau harta haram di dalamnya.

Diriwayatkan bahwa keempat istri beliau mendapatkan hak waris sebesar 80.000 dinar (Rp 176 milyar) perorang, sehingga total ganti waris untuk keempat istri beliau adalah Rp 704 Milyar. Nah, sesuai dengan hukum waris dalam Islam bahwa hak waris istri- istri beliau adalah 1/8 (seperdelapan) dari total  harta warisan Abdurrahman. Itu berarti angka Rp 704 Milyar baru seperdelapan dari harta waris beliau. Sehingga asumsi minimalnya, kekayaan warisan beliau totalnya adalah Rp 704 M x 8 = Rp 5,632 Trilyun. Dan ini adalah aset bersih tanpa ada hutang.

Luar  biasa,  beliau  begitu  kaya  raya  di  dunia. Sukses luar biasa bisnisnya. Dan mendapatkan kabar gembira masuk surga pula. Sungguh suatu pencapaian kesuksesan  luar  biasa  bukan?  Hal  ini  tentu  menjadi impian seluruh pengusaha muslim. Lalu apa saja yang menjadi rahasia sukses dunia akhirat dari sang saudagar mulia maestro bisnis syariah sepanjang masa Abdurrahman bin ‘Auf ini? Ini adalah sedikit nilai-nilai inti yang dapat kita petik dari beliau ra.,:

1. Berbisnis untuk mencari keridhaan Allah

Beliau berbisnis untuk mencari keridhaan Allah. Inilah visi kesuksesan sang maestro bisnis syariah yang harus kita semua miliki. Sukses puncak yang ingin diraih (the ultimate succes) hanyalah ridha Allah SWT.

Abdurrahman  bin  ‘Auf  adalah  seorang saudagar yang sangat jujur dan profesional. Panggilan beliau di kalangan sahabatnya adalah Abu Muhammad. Beliau senantiasa  menghindari  hal-hal  yang  haram  bahkan yang syubhat sekalipun. Beliau tidak pernah melakukan praktek ribawi atau menghalalkan segala cara untuk meraih  kekayaan.  Sehingga  keseluruhan  hartanya adalah harta yang halal, sampai-sampai seorang pengusaha sukses lainnya yang sudah sangat kayapun Ustman    bin    Affan ra.    bersedia    menerima    wasiat Abdurahman untuk membagikan 400 Dinar (880 jt rupiah) bagi setiap veteran perang Badar.

Atas   pembagian   harta   Abdurrahman   tersebut Ustman bin Affan berkata, “Harta Abdurahman bin ‘Auf halal  lagi  bersih,  dan  memakan harta  itu  membawa selamat dan berkah”. Subhanallah.

2. Memiliki Etos Kerja Tinggi, Tidak Pernah Putus Asa dan Menyerah Terhadap Keadaan.

Ini adalah contoh sikap mental sejati seorang pebisnis  yang  benar-benar telah  teruji.  Mental  yang lahir dari tawakkal yang tinggi kepada Allah SWT. Disebutkan di dalam kitab Sirah Nabawiyah, ketika perintah hijrah turun, maka Rasulullah memerintahkan seluruh  sahabat  untuk  berhijrah  ke  Madinah.  Demi untuk dapat melakukan hijrah ini Abdurrahman bin ‘Auf merelakan seluruh harta kekayaan dan hasil bisnisnya disita dan dirampas oleh orang-orang Kafir Qurays asal beliau dapat hijrah ke Madinah. Beliau sangat kuat tawakkal-nya, dan yakin rizki dari Allah SWT sehingga tidak khawatir terhadapnya.

Di Madinah Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin  dengan  kaum  Anshar,  agar  kaum  Anshar dapat menolong kaum Muhajirin yang kesusahan. Maka Abdurrahman bin ‘Auf mendapatkan saudara yang sepadan  yaitu  seorang  Anshar  yang  kaya  raya  yaitu Sa’ad Ibnu Arrabil Al-Ausari.

Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Separuh hartaku    seluruhnya   untuk    kamu”.    Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja dimana tempat pasar perdagangan (pusat bisnis) di Madinah?”

Sa’ad menjawab, “Ada, Pasar Qainuqa”.

Abdurrahman kemudian memulai kembali usahanya dari nol dengan berdagang keju dan minyak samin. Kemudian kembali bisnisnya terus berkembang dan memperoleh kesuksesan besar. Beliau tidak pernah berputus asa, karena Islam mengajarkan kepada beliau untuk terus berusaha dan haram berputus asa. Subhanallah sungguh dahsyat.

3. Selalu Memiliki Pikiran Positif (Khusnuzhan).

Pikiran positif adalah salah satu bentuk dari kemampuan berpikir diluar kebiasaan (extraordinary thinking). Kalau ada masalah biasanya orang akan menjadi lemah dan berpikir negatif. Sedangkan mereka yang berpikir positif dan melihatnya sebagai tantangan adalah orang-orang yang tidak biasa cara berpikirnya.

Ini  adalah pola pikir sesungguhnya dari seorang pengusaha sejati. Melihat segala persoalan dengan berpikir positif dan merubahnya menjadi sebuah tantangan  yang  memunculkan  kreatifitas terus menerus.

Di  antara ungkapan  Abdurahman  bin  ‘Auf   yang paling menarik dan sekaligus menunjukkan cara berpikir beliau yang tidak biasa (extraordinary thinking) adalah;

“Sungguh kulihat diriku, seandainya aku mengangkat  batu   niscaya  kutemukan  di  bawahnya emas dan perak!”

Para motivator dan inspirator saat ini mengatakan bahwa keajaiban berpikir seperti ini (positif dan kreatif) adalah  saat  anda  mengatakan  bisa,  maka  anda  akan bisa. Abdurrahman bin ‘Auf mengatakan bahwa beliau mampu   untuk   menghasilkan   harta   dari   bisnisnya, bahkan     dengan    kata-katanya:     mengangkat    batu pun beliau bisa menghasilkan emas dan perak. Secara tidak  langsung  Abdurrahman  bin  ‘Auf  yakin  bahwa beliau bisa  menghasilkan  harta dari setiap usaha dan perniagaannya.

Subhanallah, bukankah itu sebuah kekuatan berpikir yang menakjubkan?

4. Hasil usaha serta kekayaannya tidak untuk dunia.

Misi bisnis beliau (orientasi duniawinya) adalah menjadikan seluruh harta kekayaannya hasil usahanya bermanfaat untuk Islam dan kaum muslim.

Abdurrahman  bin  ‘Auf  pernah  menyumbangkan seluruh  barang dagangan  yang  dibawa  oleh  kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 ekor unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah.

Selain itu juga tercatat Abdurrahman bin Auf telah menyumbangkan di jalan Allah dengan sembunyi- sembunyi   atau   terang-terangan   antara  lain   40,000 Dirham (sekitar Rp 2.8 Milyar uang sekarang), 40,000 Dinar (senilai +/- Rp 88 Milyar uang sekarang), 200 uqiyah emas (sekitar setengah milyar), 500 ekor kuda, dan 1,500 ekor unta.

Beliau   juga   menyantuni   para   veteran   perang badar yang masih hidup waktu itu dengan santunan sebesar 400 Dinar (kurang lebih 880 jt rupiah) per orang untuk veteran yang jumlahnya tidak kurang dari 100 orang.

Sedekah telah menyuburkan harta Abdurrahman bin ‘Auf, sampai-sampai penduduk Madinah berkata, “Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin ‘Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan (infakan) kepada mereka”. Subhanallah…

5. Hidup Sederhana Tidak Bermewah-mewahan.

Inilah  pola  kehidupan  seorang pengusaha sejati, tidak   menonjolkan   simbol-simbol   kesuksesan   yang dapat menghantarkan kepada sekedar gaya-gaya an apalagi sampai jatuh kepada sikap riya dan sombong. Menjaga diri untuk tidak terjerumus ke dalam jebakan syaitan.

Harta yang luar biasa banyak yang beliau miliki, tidaklah membuat Abu Muhammad menjadi sombong atau bahkan menjadi orang yang hidup bermegah- megahan. Beliau hidup dengan sederhana. Sampai- sampai dikatakan tentang diri beliau: ”Seandainya seorang asing yang belum pernah mengenalnya, kebetulan melihatnya sedang duduk-duduk bersama pelayan-pelayannya, niscaya ia tidak akan sanggup membedakannya dengan mereka!”

Subhanallah begitu rendah hatinya beliau.  Tidak malu duduk-duduk dengan pelayan-pelayannya, bahkan berpakaian seperti mereka. Lihatlah para pebisnis saat ini, begitu punya harta sedikit maka yang diutamakan adalah simbol-simbol kesuksesan bisnisnya, dengan cara bermegah-megahan dari sisi penampilan dan harta kekayaan. Beliau tidak ingin bermegah-megahan karena begitu memahami firman Allah SWT:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin (sangat  nyata).  Kemudian  kamu  pasti  akan  ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah- megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur [102]: 1-8)

Kesuksesan sejati adalah ketika kita menakar diri tidak dengan harta kekayaan dunia tapi dengan kerendahan hati dan ridha Ilahi.

6. Selalu berorientasi kepada Akhirat.

Meskipun hidupnya berkelimpahan harta dan kekayaan,  itu  tidak  membuatnya  lalai  akan  akhirat. Bahkan kecintaanya kepada akhirat semakin kuat dan membara (orientasi terhadap tujuan di atas tujuan/ ghayatul ghayah).

Beliau bukanlah pengusaha yang pengecut, yang hanya berani berjihad dengan hartanya saja. Beliau adalah mujahid yang terlibat langsung dalam perang Badar   bersama   Rasulullah   SAW   dan   menewaskan musuh-musuh Allah. Beliau juga terlibat dalam perang Uhud dan bahkan termasuk yang bertahan di sisi Rasulullah SAW ketika tentara kaum muslimin banyak yang meninggalkan medan peperangan.

Dari peperangan Uhud ini ada sembilan luka parah ditubuhnya dan dua puluh luka kecil yang diantaranya ada yang sedalam anak jari. Perang ini juga menyebabkan luka parah di kakinya, sehingga menyebabkan  beliau menjadi  pincang  jalannya,  dan juga   telah   merontokkan   sebagian  giginya   sehingga beliau cadel bicaranya. Kondisi fisiknya yang menjadi cacat menjadi bukti dan saksi jihad beliau di jalan Allah SWT.

Meski beliau sudah berkorban harta dan juga fisik, beliau tetap merasa sangat takut akan pertanggung jawaban kehidupan beliau di akhirat kelak. Tak jarang beliau merasa khawatir terhadap kemudahannya memperoleh  rizki  Allah.  Beliau  khawatir  kemudahan tersebut merupakan kebaikan yang telah didahulukan di dunia dan beliau tidak memperoleh apa-apa lagi di akhirat nanti.

Pada suatu ketika, saat hidangan jamuan makan telah disajikan dihadapan beliau bersama para sahabatnya yang lain, beliaupun menangis tersedu. Karena itu para sahabatnyapun bertanya: ”Apa   sebabnya   engkau   menangis   wahai   Abu Muhammad…?”

Sambil menangis beliaupun berkata: Mush’ab bin Umair telah gugur sebagai syahid, dan ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku, ia hanya mendapat kafan sehelai burdah, jika ditutupkan ke kepalanya maka kelihatan kakinya, dan jika ditutupkan ke kedua kakinya terbuka kepalanya! Demikian pula Hamzah bin Abdul Muthalib  yang  jauh  lebih  baik  daripadaku,  ia  pun gugur  sebagai  syahid,  dan  di  saat  akan  dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan  bagi  ku  dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepadaku perolehan sebanyak- banyaknya. Sungguh aku khawatir kalau-kalau telah di dahulukan pahala kebaikan ku di dunia…!”

Subhanllah begitu dalam perasaanmu wahai sahabat Rasulullah

Pada  kesempatan  lain  beliau  pernah  pula menangis di hadapan hidangan dan berkata: ”Rasulullah  saw.  telah  wafat  dan  tak  pernah beliau berikut keluarganya sampai kenyang makan roti gandum, bagaimana harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan bagi kita…?

Beliau Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang pebisnis kaya raya yang mampu mengendalikan hartanya, bukan harta yang mengendalikan dirinya. Jiwa raga dan hartanya telah diserahkan sepenuhnya untuk Allah.  Beliau  meletakkan  harta  kekayaan  dunia  di dalam genggaman tangannya bukan di hatinya.

Cukuplah apa yang diucapkan oleh imam Ali ra. dalam ucapan beliau untuk menutup gambaran sosok sang uswah kita ini. Imam Ali ra. pernah berucap saat wafatnya Abdurrahman bin ‘Auf: “Pergilah wahai ibnu ‘Auf. Engkau telah memperoleh jernihnya (dunia) dan telah meninggalkan kepalsuannya (keburukannya).”

Subhanallah Wallahu Akbar…

Semoga nilai-nilai utama yang terpancar dari kepribadian sang pengusaha tersukses sepanjang masa ini  menjadi  contoh  tauladan  (uswah  hasanah) bagi setiap kita dan menginspirasi visi dan misi bisnis kita. Amin.

Salam untukmu wahai sahabat Abdurrahman bin ‘Auf.  Salam  untukmu wahai  Abu  Muhammad.  Salam untukmu wahai para sahabat Rasul tercinta.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sumber: Fauzan Al-Banjari, Dalam Buku 9 Bekal Syar’i Perjalanan Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *