Mental Ajaib

adminsbs Januari 17, 2019 0 Comments

Sahabatku yang budiman dan baik hatinya, bekal kedua yang harus menjadi sangu shariapreneur dalam menempuh perjalanan suksesnya adalah memiliki mental yang tangguh. Mental khas pengusaha muslim sejati. Sebab perjalanan bisnis itu penuh dengan tantangan dan ujian. Seorang pengusaha akan diuji dengan keberhasilan dan kegagalan. Ada yang lolos dengan ujian kegagalan, namun tidak sedikit yang tidak lolos menghadapi ujian keberhasilan.

Berbeda halnya dengan seorang shariapreneur sejati. Mereka memiliki mental yang menakjubkan. Seorang  shariapreneur  yang mengantongi bekal pertama di atas tidak saja sanggup menghadapi   kegagalan   tapi   juga   siap   menghadapi keberhasilan.

Baginda Rasulullah saw bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ لَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَتْ خَيْرًا لَهُ وَإنْ أصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَتْ خَيْرًا لَهُ

Sungguh       ajaib       urusan       orang       mukmin! Sesungguhnya    setiap    urusannya    baginya    adalah kebaikan   dan   perkara   ini   tidak   berlaku   melainkan kepada orang mukmin. Jika dia diberi dengan sesuatu yang menggembirakan dia bersyukur maka itu adalah kebaikan baginya.  Dan apabila dia ditimpa kesusahan dia bersabar maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR. Muslim).

Seorang shariapreneur sejati apabila diberikan kesuksesan dia bersyukur dan itu menambah kebaikan bagi  dirinya. Apabila  diberikan  kesusahan  ia bersabar dan itu juga merupakan kebaikan bagi dirinya.

Mungkin anda bertanya apa kebaikannya?

Jika  ia  diberikan  nikmat  kesuksesan  dan  ia bersyukur maka Allah akan menambah nikmatnya. Allah SWT berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya  jika  kamu  bersyukur, pasti  kami  akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrahim [14]: 7)

Apabila seorang mukmin ditimpa kesusahan dan ia bersabar maka Allah akan menghapus sebagian dosa- dosanya,   dan   itu   sungguh   sebuah   kebaikan   yang dahsyat bagi dirinya. Rasulullah saw bersabda:

مَا لِعَبْدِى الْمُؤْمِنِ عِنْدِى جَزَاءٌ ، إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ، ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلاَّ الْجَنَّةُ

”Segala sesuatu yang menimpa seorang muslim, baik berupa   rasa   letih,   sakit,   gelisah,   sedih,   gangguan, gundah    gulana,   maupun   duri   yang   mengenainya (adalah    ujian    baginya).    Dengan    ujian    itu    Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa seorang mukmin memiliki mental yang demikian?

Jawabnya tidak lain karena seorang shariapreneur sejati  memiliki  rahasia  kekuatan  mentalnya.  Pondasi dari rasa syukur dan sabarnya yaitu Tawakkal kepada Allah SWT.

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dia-lah pelindung kami, dan Hanya kepada Allah orang- orang  yang  beriman  harus  bertawakkal.”  (AtTaubah [9]: 51).

Apa sebenarnya makna tawakkal?

Apakah tawakkal artinya pasrah saja sehingga tidak perlu melakukan usaha?

Bukan   itu   sahabatku,   tawakkal   secara   bahasa berasal dari kata tawakkala, yatawakkalu, tawakkulan, yang berarti menjadikan yang lain sebagai wakil. Tawakkal yang dimaksud disini adalah ungkapan qalbu kepada Al-Wakil yaitu Zat Yang Maha Kuasa untuk mewakili segala urusan. Kepasrahan qalbu secara bulat kepada Allah terhadap mashlahat yang ingin dicapai serta mudharat yang ingin dihindari, baik masalah dunia maupun akhirat. Sikap yang muncul adalah menampakkan kelemahan/ ketergantungan pada Allah dan merasa cukup hanya kepada-Nya sebagai tempat bersandar.

Ada   beberapa   perkara   yang   berkaitan   dengan tawakkal kepada Allah, yaitu:

Pertama: Tawakkal berkaitan dengan masalah akidah. Yaitu meyakini Sang Pencipta, Allah SWT, yang dijadikan tempat bersandar oleh setiap muslim ketika mencari kemanfaatan dan menolak kemudharatan.

Kedua: Setiap hamba wajib bertawakkal kepada Allah dalam segala urusannya.  Tawakkal  ini termasuk aktivitas hati, sehingga jika seorang hamba mengucapkannya saja tapi tidak meyakini dengan hatinya, maka ia  tidak dipandang sebagai orang yang bertawakkal.

Ketiga: Jika seorang hamba mengingkari dalil-dalil wajibnya  tawakkal  yang  qath’i  (pasti),  maka  ia  telah jatuh kepada kekafiran.

Keempat: Tawakkal harus meliputi seluruh perbuatan, bukan berbuat dahulu baru kemudian ber- tawakkal. Tapi ber-tawakkal itu semenjak membulatkan tekad (azzam) untuk mengerjakan sesuatu sampai sesuatu selesai dikerjakan. Sebagaimana firman Allah dalam qur’an surah Ali Imran ayat 159.

Kelima: Memiliki sikap tawakkal bukan berarti melemahkan perbuatan amal. Aktivitas amal perbuatan yang   terkait   hukum   kausalitas   (sunatullah)   adalah perkara   tersendiri   yang   terpisah   dengan   kewajiban tawakkal.

Rasulullah saw senantiasa ber-tawakkal kepada Allah dan pada saat yang sama beliau beramal dengan berpegang pada hukum kausalitas. Beliau telah memerintahkan para sahabat agar melakukan kedua perkara tersebut, baik yang ada dalam al-Quran atau al- Hadits.

Contohnya;

Beliau telah menyiapkan kekuatan yang mampu dilakukan, seperti mengurug (menutup) sumur-sumur pada saat perang Badar dan menggali parit pada saat perang Khandak. Beliau pernah meminjam baju besi dari Sofwan untuk berperang. Beliau menyebarkan mata- mata, memutuskan air dari Khaibar, dan mencari informasi tentang kaum Quraisy ketika melakukan perjalanan untuk mem-futuh (membebaskan) Makkah. Beliau masuk Makkah dengan mengenakan baju besi. Beliau pun pernah mengangkat beberapa sahabat sebagai pengawal beliau.

Begitu pula aktivitas-aktivitas beliau lainnya ketika berada di Madinah setelah berdirinya Daulah Islam. Adapun ketika di Makkah, beliau telah memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habsyah. Beliau menerima perlindungan dari pamannya, Abû Thalib. Beliau tinggal di Syi’ib (lembah) selama masa pemboikotan. Pada malam hijrah, beliau memeritahkan Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Beliau tidur di gua Tsur selama tiga hari. Beliau pun  menyewa penunjuk jalan dari Bani Dail.

Semua itu menunjukkan bahwa beliau telah melakukan amal sesuai kaidah kausalitas, menjalankan sunatullah. Tapi pada saat yang sama beliau pun selalu ber-tawakkal, karena tidak ada hubungan antara tawakkal dengan menggunakan kaidah kausalitas ketika beramal. Mencampuradukkan antara keduanya akan menjadikan tawakkal hanya sekadar formalitas belaka yang tidak ada dampaknya dalam kehidupan.

Tawakkal   adalah   kewajiban   yang   diperintahkan oleh Allah SWT kepada setiap muslim untuk segala urusannya. Dalil-dali tentang kewajiban tawakkal adalah sebagai berikut:

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah ber-azzam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal” (Ali ‘Imrân [3]: 159)

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang menta’ati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan  pasukan  untuk  menyerang  kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu  menambah  keimanan  mereka  dan  mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah  adalah  sebaik-baik  Pelindung.”  (Ali  ‘Imrân  [3]: 173).

وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

“Dan  hanyalah  kepada  Allah  orang-orang  yang beriman harus bertawakal.” (at-Taubah [9]: 51)

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (al-Anfâl [8]: 49)

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah  Tuhan  yang  memiliki  ‘Arsy  yang  agung”.  (at-Taubah [9]: 129).

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Maka    sembahlah    Dia,    dan    bertawakallah kepada-Nya. Sekali-kali Allah tidak pernah lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (Hûd [11]: 123)

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لا يَمُوتُ

Dan   bertawakallah   kepada   Allah   Yang   Hidup (Kekal) Yang tidak mati… (al-Furqân [25]: 58).

Dan masih banyak ayat-ayat yang lainnya yang menunjukkan wajibnya ber-tawakkal.

Sahabat yang dirahmati Allah, tawakkal kepada Allah akan memberikan dampak yang dahsyat dalam kehidupan seorang muslim, yaitu:

(1)  Allah akan cukupkan kebutuhannya.

(2)  Allah akan memberikan petunjuk kepadanya.

(3)  Allah akan menjaga atau memelihara urusannya.

(4)  Allah akan memberikan rizki kepadanya.

Sebagaimana telah disebutkan di dalam Al-Qur’an dan Hadits berikut:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (At- Thalaq [65]: 3)

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ يُقَالُ لَهُ حَسْبُكَ قَدْكَفَيْتُ وَوَقَيْتُ فَيَلْقَى الشَّيْطَانُ شَيْطَانً آخَرْ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْكُفِيَ وَوُقِّيَ وَهُدِيَ

Jika seseorang akan keluar dari rumahnya kemudian membaca, “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan kekuasaan Allah”; maka akan dikatakan kepadanya,   “Cukup   bagimu,   engkau   sungguh   telah diberi kecukupan, engkau pasti akan diberi petunjuk dan engkau pasti dipelihara.” Kemudian ada dua setan yang bertemu dan berkata salah satunya kepada yang lain, “Bagaimana engkau bisa menggoda seorang yang telah diberi  kecukupan,  dipelihara,  dan  diberi  petunjuk.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya. Ia berkata dalam al-Mukhtarah, “Hadits ini telah dikeluarkan oleh Abû Dawud dan an-Nasâi, Isnadnya shahih”)

Dari  Umar  Al-Khattab  berkata;  Aku  mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًاوَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Jika   kalian   benar-benar   bertawakkal   kepada Allah dengan tawakkal yang sebenarnya, sungguh Allah akan  memberikan  rizki  kepada  kalian,  sebagimana Allah telah memberikan rizki kepada burung. Burung itu pergi dengan perut kosong dan kembali ke sarangnya dengan perut penuh makanan.” (HR. al-Hâkim; Ia berkata, “Hadits ini shahih isnadnya”, dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya, dan dishahihkan oleh al- Maqdisi dalam al-Mukhtarah).

Dengan pemahaman tawakkal sebagaimana telah dijelaskan di atas, kita yakin bahwa dengan tawakkal ini akan   memberikan   pengaruh   yang   sangat   signifikan dalam setiap aktivitas yang dilakukan untuk menghantarkan kita kepada kesuksesan tertinggi.

Sahabatku camkan lah ini baik-baik agar kita dapat memiliki mental ajaib dalam mengarungi samudera kehidupan dan bisnis kita; Sebelum kita berpartner dengan siapapun mari kita jadikan Allah ‘partner’ pertama dan utama kita dengan selalu ber-tawakkal hanya kepada-Nya.

***

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (At-Thalaq [65]: 3)


Sumber: Fauzan Al-Banjari, Dalam Buku 9 Bekal Syar’i Perjalanan Bisnis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *