Visi & Misi Total Muslim

adminsbs Januari 22, 2019 0 Comments

Sahabatku yang baik hatinya, sebagai seorang muslim, tentu saja kita memiliki visi dan misi yang  khas  dalam  kehidupan.  Visi  dan  misi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT bagi kita semua makhluk ciptaan-Nya. Semua muslim sepakat bahwa puncak visi hidup (the ultimate vision) mereka adalah memperoleh ridha Allah SWT dan puncak misi hidup (the ultimate mission) mereka adalah beribadah kepada Allah SWT  saja.

Implementasinya bagaimana?

Allah SWT berfirman:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ

Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan   kami,   berilah   kami   kebaikan   di   dunia   dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Seorang muslim memiliki pandangan hidup yang khas bahwa hidup tidak hanya di dunia ini saja, tetapi kehidupan yang sejati adalah di akhirat kelak. Allah dan Rasul-Nya telah mengajarkan kepada kita untuk dapat memanfaatkan  semaksimal  mungkin  kehidupan  dunia ini dengan ibadah (menjalankan misi) untuk mencapai keridha’an Allah pada kehidupan akhirat (mencapai visi puncak). Kita diperintahkan untuk beramal dan memberikan karya sebaik-baiknya di dunia (big vision) dalam rangka meraih ridha Allah (ultimate vision). Ini lah total vision dan total mission yang dibangun berlandaskan keimanan yang kokoh dan benar.

Gambar 1. Muslim Total Vision & Mission

Untuk  tercapainya  visi  dan  misi  tersebut  maka tidak ada jalan lain bagi seorang muslim kecuali mencelupkan setiap aktivitas hidup yang dilakukannya ke dalam standar keridha’an Allah Yang Maha Kaya dan Maha Pemurah.

صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ

“Shibghah  (celupan)  Allah.  dan  siapakah  yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah  kami  menyembah.”  (AlBaqarah  [2]: 138).

Dari gambar 1 tersebut kita dapat melihat bahwa hidup kita di dunia ini ibarat sebuah titik pada sebuah garis panjang tak berhingga. Sebuah tempat dan waktu yang sangat singkat dibandingkan dengan akhirat yang kekal abadi.

Setiap aktivitas yang dilakukan di kehidupan dunia ini akan  menentukan  tempat kembali setiap orang di akhirat kelak. Jika seorang muslim hendak memperoleh kehidupan akhirat yang bahagia (surga) maka kehidupan seorang muslim di dunia wajib berjalan dalam koridor ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Definisi ibadah disini adalah setiap amal atau aktivitas yang mendapatkan ridha-Nya.

Untuk membangun sebuah bisnis yang benar- benar  sukses  (real  success)  bukan  sekedar  nampak sukses  (looking  success),  kita  harus  memiliki  visi  dan misi tertinggi beserta dengan aktivitas terbaik (kinerja terbaik) untuk mencapai visi dan misi tersebut. Sebuah bisnis yang benar-benar sukses wajib memiliki standar visi dan misi yang total, yaitu visi dan misi bisnis yang selaras   dengan   visi   dan   misi   penciptaan   manusia.

Keseriusan dan keistiqomahan setiap pebisnis untuk selalu menyelaraskan visi bisnisnya (big vision) dan visi hidupnya (ultimate vision)-lah yang sesungguhnya akan menjadi puncak kesuksesan tertingginya (the ultimate success).

Sahabatku, seberapapun besarnya visi bisnis yang hendak kita bangun, maka visi tersebut harus selaras dengan visi penciptaan diri kita sebagai hamba Allah, yaitu visi tersebut wajib sesuai dengan kriteria diterimanya aktivitas (amal) oleh Allah SWT.

Dalam   sebuah   hadits   Qudsi   Allah   berfirman kepada malaikat yang diserahi urusan rizki bani Adam:

اَيُّمَاعَبْدٍ وَجَدْ تُمُوهُ جَعَلَ الْهَمَّ هَمًّا وَاحِدًا فَضَمِّنُوا رِزْقَهُ السَّمَوَاتِ وَالْعَرْضِ وَاَيُّمَا عَبْدٍ وَجَدْ تُمُوهُ طَلَبَهُ فَاِنَّهُ تَحَرَّى الْعَدْلَ فَطَيِّبُوا لَهُ وَيَسِّرُوا عَلَيْهِ وَاِن تَعَدَّى اِلَى خِلاَفِ ذَلِكَ فَخَلُّوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَايُرِيْدُ ثُمَّ لاَ يَنَالُ فَوْقَ الدَّرَجَةِ الَّتِى كَتَبْتُهَالَهُ

“Hamba manapun yang kalian dapati cita-citanya hanya   satu,   yaitu   semata-mata   untuk   kehidupan akhirat, jaminlah rizkinya di langit dan di bumi; dan hamba  manapun  yang  kalian dapati mencari  rizkinya dengan jujur karena berhati-hati dalam mencari keadilan, berilah ia rizki yang baik dan mudahkanlah ia; dan jika  ia  telah  melampaui  batas kepada selain itu, biarkanlah ia sendiri mengusahakan apa yang dikehendakinya.  Kemudian  dia  tidak  akan  mencapai lebih dari apa yang Aku tetapkan untuknya.” (HR. Abu Na’im dari Abu Hurairah ra).

Hadits ini merupakan janji Allah kepada orang- orang yang selalu memiliki visi akhirat dalam setiap perbuatannya. Allah akan memberikan rizki dan memudahkan  urusan  mereka.   Pengertian  hadits  ini sejalan dengan firman Allah SWT:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا

وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan  mengadakan  jalan  keluar  baginya, dan memberikan rizki dari sumber yang tiada disangka- sangka; dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan segala urusan, dan benar-benar Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (AtThalaq [65]: 2-3)

Sedangkan bagi mereka yang tidak mempedulikan kehidupan akhirat. Dan tujuan hidupnya bercabang- cabang sehingga jauh dari tujuan akhirat itu maka Allah tidak   akan  mempedulikan   kebinasaannya   di   bagian manapun   di   dunia   ini.   Hal   ini   sebagaimana   yang disabdakan Rasulullah saw:

مَنْ جَعَلَ الْهَمَّ هَمًّا وَاحِدًا كَفَاهُ اللهُ هَمَّ الدُّنْيَا وَمَنْ تَشَعَّبَتْهُ الْهُمُومُ لَمْ يُبَالِ اللهُ فِي اَيِّى اَوْ دِيَةِ الدُّنْيَا هَلَكَ

“Barangsiapa yang mempunyai hanya satu keinginan yaitu (akhirat) niscaya Allah SWT akan mencukupkan kehidupan yang diinginkannya di dunia. Dan barangsiapa yang keinginannya bercabang, Allah tidak akan meperdulikan kebinasaannya di lembah manapun di dunia ini”. (HR. Hakim, Baihaqi dan Ibnu Majah dari Ibnu ‘Umar)

Bagi orang-orang yang melampaui batas-batas hukum  Allah,  menyalahi  cita-cita  akhirat  dan  tujuan yang lurus, yaitu menumpahkan perhatiannya hanya tertuju kepada dunia belaka, hingga cita-citanyapun hanya satu yaitu menumpuk kekayaan di dunia, sedangkan bekal untuk kehidupan akhirat tidak dihiraukannya. Maka Allah pun tidak akan menghiraukannya. Dia tidak akan memperoleh keberhasilan lebih dari apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT baginya.

Allah SWT berfirman:

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat maka akan Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia maka akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia, dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)

Jika demikian, maka perhatian seorang pebisnis seharusnya adalah pada visi total hidupnya. Lalu bagaimana   caranya   seorang   pebisnis   muslim   bias memiliki visi dan misi  total seperti yang diilustrasikan pada gambar 1 tersebut?

Jawabnya adalah ketika seorang manusia, baik ia muslim atau belum muslim mampu menjawab dengan benar the three ultimate questions (3 pertanyaan pamungkas). Apa itu 3 pertanyaan pamungkas?

Tiga pertanyaan pamungkas itu adalah tiga pertanyaan yang tidak ada lagi pertanyaan yang lebih mendasar darinya. Pertanyaan yang menjadi dasar bagi seluruh pertanyaan kehidupan makhluk yang bernama manusia di dunia ini. Tiga pertanyaan yang menjadi khasnya makhluk hidup yang bernama manusia. Tiga pertanyaan yang menjadi simpul kebangkitkan manusia.

3 simpul pertanyaan tersebut adalah;

1.   Darimana dirinya berasal?

2.   Untuk apa ia hidup di dunia?

3.   Akan kemana ia setelah mati?

Seorang pebisnis muslim tidak akan pernah memperoleh visi hidup total yang kokoh sebelum ia berhasil  mengurai  dengan  benar  ketiga  simpul  besar ini.[1] Sahabat,   tancapkanlah   dengan   kuat   visi   misi sukses hidup anda yang tertinggi…

Sumber: Fauzan Al-Banjari, Dalam Buku 9 Bekal Syar’i Perjalanan Bisnis


[1] Penjelasan lengkapnya ada di shariapreneur guiding book, Book 1 yang membahas tentang shariapreneur mind & soul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *